Smeotik Paradoks Ayuisme

27 september 2016.

Dengan segala kecamuk dikepala, kupesan kopi dikedai sudut kota.
ditemani lampu temaram, melepas sendu yang berkecamuk di relung jiwa.
menyeka air mata, menyelipkan do'a, atas pernikahanmu yang sebentar lagi terlaksana.

perlahan kutatap lembaran undanganmu yang kutaruh rapi diatas meja,
menyusun kembali ingatan tetangmu diruang rasa.
memecah logika, menghancurkan seisi dada.
menghentikan laju jantung menggerus luka..
tak henti bergumam namakulah yang tertulis denganmu disana; seharusnya.

tak henti megutuk waktu mengubur seluruh rencana,
kiranya begitu tega kau hancurkan segala mimpi saya dengan dalih "terima kasih atas segalanya".
matamu menyimpan bianglala, yang tanpanya hidupku tak lagi punya warna.

setelah cacatku kau rawat dan lukaku kau ruwat,
kau pamit dengan merobak luka yang lebih hebat,

harap jadi gelap, sigap jadi tergagap, karena kau tak lagi bisa kudekap.
merindu semakin kerap, mengharapkanmu sebagai pelengkap.
karena bersamamu aku genap, tanpamu aku lenyap.

Komentar