hanya aku tak begitu beruntung untuk memilikimu.
13 Juni 2016.
aku masih belum bisa tidur, mataku memberontak. seisi kepalaku masih terjada, karena kelopak mata yang ditopang rindu. benar-benar hancur rasanya saat engkau tau seseorang yang engkau sayangi dalam-dalam, meninggalkanmu tanpa sedikitpun penjelasan.
yah, mungkin aku harus melihat dari sudut pandang yang lain. dari sudut pandang maya yang kumaksud. aku mungkin tau beberapa alasan kenapa dia tidak mau menjelaskan apa yang terjadi padaku.
aku jadi teringat satu buku yang pernah kubaca dengan karakter yang bernama kamerad kliwon yang dengan tanpa bersalahnya mengatakan..
"seorang pelacur bercinta karena uang, apa yang akan kita sebut pada seorang perempuan yang kawin juga karena uang dan status sosial?"
"semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada."
- Kamerad Kliwon.
tapi cinta ya cinta, bahkan berulang kali aku katakan.. jikalaupun maya itu adalah pelacur aku akan tetap mencitainya, tanpa karena tanpa titik tanpa tetapi..
hujan tak pernah paham bahwa ia berasal dari air laut yang menguap. tetapi laut selalu dengan rela mengisinya, meski ia tahu bahwa setiap rintik tak hanya jatuh padanya - ikhlas.
begitulah kegidupan, terkadang yang terindah memang sengaja Tuhan ciptakan tetapi bukan untuk dimiliki, pun hanya cukup dipandangi dari kejauhan. lalu syukuri bahwa ia masih ada dibumi yang sama, di bawah rembulan yang sama, dan kau masih dapat mengaguminya dalam diam.
yah, aku tahu semua orang tua didunia ini pasti menginginkan masa depan yang terbaik bagi anaknya, aku sangat paham. yang aku sesali kenapa aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan?
bukankah yang pasti di dunia ini adalah justru ketidakpastian itu sendiri; kecuali tiga hal; jodoh, maut, dan rezeki.
orang yang tampan bisa jadi jelek, orang kaya bisa jadi miskin, ketenaran bisa redup kapan saja. bukankah begitu rumus kehidupan?
tapi apalah kami ini kaum yang temarjinalkan, kehidupan tak berkelas. tak seperti calon suamimu yang bergaji tigabelas.
2 bulan lamanya tiada hari tanpa ratapan, kuhabisakan batang demi batang sampoerna mild setiap malam, salah apa aku sampai Tuhan menghukumku demikian? bukankah cinta itu Kau sendiri yang hadirkan, Tuhan? lantas kenapa kau hadirkan cinta yang menyengsarakan. jika pada akhirnya aku dan dia tak bisa kau persatukan?
*matahari mulai nongol gak sabaran, menunjukkan waktu pukul 09.00 wib yang artinya aku terlambat ke kampus. yah, waktu itu aku masih semester 8 dan sedang menyusun skripsi.. yah walaupun pada kenyataannya semakin lama aku dikampus semakin menyadari kalo ternyata aku salah ambil jurusan, hehehe
kulajukan motorku yang bensinnya sudah berkedip-kedip itu menuju warkop depan kampus langgananku, entah kenapa aku tidak mood saja untuk memasuki gerbang kampus, tubuhku seakan tertarik gaya gravitasi dari warkop tutik dan memaksaku untuk meminum kopi disana.
"tlink tlink" bunyi notif telepon masuk dari ponselku. tak perlu kujelaskan kan itu darimana hahaha
"sibuk?" - tanya maya.
"enggak" jawabku enteng.
(padahal waktu itu minggu terakhir untuk pemberkasan proposal skirpsi hahaha)
percayalah, sesibuk apapun laki-laki, tidak ada kata sibuk untuk memberikan waktunya padamu, bahkan jika itu merugikan dirinya sendiri.
"kenapa?" tanyaku.
"gak papa" balasnya lesu.
"mau aku kesana?"
"iyaa" (seraya mengecilkan suaranya seakan-akan berbisik ditelingaku hehehe).
"baru bangun?".
"iya, bangun rumah tangga sama kamu, mau" balasku..
"iiihh, apaan sih.." balasnya disela tawa-tawa kecil.
(masih menunggu ilham untuk menulis lagi)
aku masih belum bisa tidur, mataku memberontak. seisi kepalaku masih terjada, karena kelopak mata yang ditopang rindu. benar-benar hancur rasanya saat engkau tau seseorang yang engkau sayangi dalam-dalam, meninggalkanmu tanpa sedikitpun penjelasan.
yah, mungkin aku harus melihat dari sudut pandang yang lain. dari sudut pandang maya yang kumaksud. aku mungkin tau beberapa alasan kenapa dia tidak mau menjelaskan apa yang terjadi padaku.
aku jadi teringat satu buku yang pernah kubaca dengan karakter yang bernama kamerad kliwon yang dengan tanpa bersalahnya mengatakan..
"seorang pelacur bercinta karena uang, apa yang akan kita sebut pada seorang perempuan yang kawin juga karena uang dan status sosial?"
"semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada."
- Kamerad Kliwon.
tapi cinta ya cinta, bahkan berulang kali aku katakan.. jikalaupun maya itu adalah pelacur aku akan tetap mencitainya, tanpa karena tanpa titik tanpa tetapi..
hujan tak pernah paham bahwa ia berasal dari air laut yang menguap. tetapi laut selalu dengan rela mengisinya, meski ia tahu bahwa setiap rintik tak hanya jatuh padanya - ikhlas.
begitulah kegidupan, terkadang yang terindah memang sengaja Tuhan ciptakan tetapi bukan untuk dimiliki, pun hanya cukup dipandangi dari kejauhan. lalu syukuri bahwa ia masih ada dibumi yang sama, di bawah rembulan yang sama, dan kau masih dapat mengaguminya dalam diam.
yah, aku tahu semua orang tua didunia ini pasti menginginkan masa depan yang terbaik bagi anaknya, aku sangat paham. yang aku sesali kenapa aku sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membuktikan?
bukankah yang pasti di dunia ini adalah justru ketidakpastian itu sendiri; kecuali tiga hal; jodoh, maut, dan rezeki.
orang yang tampan bisa jadi jelek, orang kaya bisa jadi miskin, ketenaran bisa redup kapan saja. bukankah begitu rumus kehidupan?
tapi apalah kami ini kaum yang temarjinalkan, kehidupan tak berkelas. tak seperti calon suamimu yang bergaji tigabelas.
2 bulan lamanya tiada hari tanpa ratapan, kuhabisakan batang demi batang sampoerna mild setiap malam, salah apa aku sampai Tuhan menghukumku demikian? bukankah cinta itu Kau sendiri yang hadirkan, Tuhan? lantas kenapa kau hadirkan cinta yang menyengsarakan. jika pada akhirnya aku dan dia tak bisa kau persatukan?
*matahari mulai nongol gak sabaran, menunjukkan waktu pukul 09.00 wib yang artinya aku terlambat ke kampus. yah, waktu itu aku masih semester 8 dan sedang menyusun skripsi.. yah walaupun pada kenyataannya semakin lama aku dikampus semakin menyadari kalo ternyata aku salah ambil jurusan, hehehe
kulajukan motorku yang bensinnya sudah berkedip-kedip itu menuju warkop depan kampus langgananku, entah kenapa aku tidak mood saja untuk memasuki gerbang kampus, tubuhku seakan tertarik gaya gravitasi dari warkop tutik dan memaksaku untuk meminum kopi disana.
"tlink tlink" bunyi notif telepon masuk dari ponselku. tak perlu kujelaskan kan itu darimana hahaha
"sibuk?" - tanya maya.
"enggak" jawabku enteng.
(padahal waktu itu minggu terakhir untuk pemberkasan proposal skirpsi hahaha)
percayalah, sesibuk apapun laki-laki, tidak ada kata sibuk untuk memberikan waktunya padamu, bahkan jika itu merugikan dirinya sendiri.
"kenapa?" tanyaku.
"gak papa" balasnya lesu.
"mau aku kesana?"
"iyaa" (seraya mengecilkan suaranya seakan-akan berbisik ditelingaku hehehe).
"baru bangun?".
"iya, bangun rumah tangga sama kamu, mau" balasku..
"iiihh, apaan sih.." balasnya disela tawa-tawa kecil.
(masih menunggu ilham untuk menulis lagi)
Komentar
Posting Komentar