Dialegtika

Dsember 2016, Gresik.

seperti biasa malam itu kuhabiskan bersama teman-temanku dikedai kopi hanya untuk sekadar menghapus sepi dan mencari penghiburan.
kuseduh kopiku ditemani sebungkus rokok seraya menikmati kebersamaanku bersama kawan-kawan.
ada satu kawanku yang sangat aku kagumi ideologinya, sebut saja dia sentosa.
seberat apapun masalahmu, sesedih apapun keadaanmu.. kau akan tertawa kalau ngopi bersama santosa.
aku masih ingat betul pesannya waktu itu, "hidup ini milik mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri." satu kalimat yang bahkan sampai saat ini masih kuingat sangat jelas.
"mereka yang mampu menertawakan dirinya sendiri, tak akan mampu ditertawakan dunia." tambahnya.

bila boleh kudeskripsikan sedikit, sentosa adalah temanku yang pemikirannya kuanggap cukup matang.
penampilannya compang camping, kaos gombreng, celana sobek-sobek, muka kucel, tapi satu hal yang sangat-sangat membuatku kagum adalah dia tidak pernah lalai sholat 5 waktu, keren cuk !

pernah pada suatu kesempatan, aku bertanya padanya..
"san, opo'o seh, tak sawang sholatmu gak tau let looo.. tapi awakmu kok jarang pakaine rapi nggo taqwa?"
"san, kenapa sih, aku lihat sholatmu selalu taat, tapi kenapa penampilanmu kok begini?" tanyaku.
"looo.. yaopo awakmu iki, ancen aku pengen ae dandan model koyok ngene, isis wakakaak.."
"loo.. kamu ini bagaimna emang aku suka tampil begini lebih sejuk waakakak.."
"serius cuk.." balasku.
(untuk teman2 mohon jangan menafsirkan kata 'jancuk' sebagai kata yang kasar, bila kalian ada waktu cobalah mampir ke kedai-kedai kopi, pandangi.. amati mereka.. justru itu adalah kata kemesrahan sesama sahabat.. semakin dekat ikatan seseorang, semakin hilang tingkat kesopanannya.. bila kau tak bisa gila bersama sahabatmu, maka dia hanya teman biasa.)

"eson dandan koyo ngene iki ben wong-wong gak ngarani aku wong apik zhar, engkok malah aku dadi sombong, benno ae wong-wong iku menilai aku koyo ngopo. cukup Gustiallah ae sing nilai ikhlase atiku ngibadah"
"aku berpenampilan seperti ini biar orang-orang itu gak nganggap aku orang baik zhar, nanti aku malah bangga hati sama ibadahku, biar saja orang-orang itu menilai aku seperti apa, Allah tau iklas tidaknya aku beribadah"

gila pikirku.. disaat semua orang berbanga dengan puasanya, mengupload doa-doa mereka dimedsos agar dapat pujuan, pengakuan, dll. santosa ini malah memilih sebaliknya. dan aku pikir santosa adalah satu dari sedikit orang yang sudah merasakan ibadah. cukup dia nikmati sendiri, tak perlulah orang lain tau..
dari santosa inilah aku belajar, bahwa didunia ada orang yang sengaja mengalah, berakting bodoh, hanya karena takut itu akan membuatnya berbangga diri.. that way i believed the qoutes "dont judge the book by the cover"
kabarnya sekarang, dia jadi dokter disalah satu rumah sakit swasta yang ada di daerah blitar.
diamanapun lo berada, eson kangen awakmu san !

waktu menunjukkan pukul 2 pagi, kami pun kembali ke peraduan.
sesampainya dikost, aku menyalakan ponselku yang tadi lowbat. 
"tlining.. tlining.. "
banyak sekali wa masuk, tapi aku cuma cari wa dari maya hehe
"zhar, kapan bicara sama ibuk?”
“besok aku ke Surabaya.. “ kupikir dia masih tidur saat kubalas pesannya..

27 desember 2016, 06:45 AM.

Aku berangkat ke Surabaya menemui maya sekaligus ingin membicarakan soal kita,
“aku udah didepan kost, kamu keluar gih.” – pintaku padanya ditelfon.
Dia cantik sekali pagi itu, wajahnya yang sayu sembari kerudungnya terayun-ayun udara pagi saat dia berjalan.
“calon istriku cantik.. hehehe” gumamku..
“iiiih apassssiih”.. balasnya. Seraya mencubit lenganku, kadang hal-hal receh seperti cubitan, pukulan-pukulan kecil inilah yang dirindukan pria.
Jadi, untuk kawan-kawan perempuan, bila kau ingin mendapatkan hati seorang pria, cubitlah dia banyak-banyak hahahaaha..

Aku ajak dia jalan-jalan menikmati udara pagi Surabaya.. aaaarggghh. Ingin rasanya waktu berhenti saja kala itu..
Entah kenapa hari itu dia memelukku erat sekali..
“zhar..” suaranya lirih, ternyata dia menangis sedari tadi..
Kupelankan motorku sembari mendengarnya yang sepertinya ingin bercerita..
“maaf” pintanya..
“heeh.. kenapa?” aku sedikit terkaget dengan ucapanya..
“kenapa?” kuulangi pertanyaanku, dia hanya diam.
“kita cari sarapan dulu yaa?”
Dia hanya mengangguk dalam diam.
Kuajak dia makan diwarung sebran jalan daerah wonocolo,
“udah nyampe.. gak mau turun?”
“enggak, gak lapar.. mau meluk kamu aja”.. balasnya manja dengan nada yang sedikit serak karena bekas tangis..
“kalo kamu gak makan nanti sakit, kalo kamu sampe sakit berarti aku gak bisa jaga kamu.. kalo aku gabisa jaga kamu, nanti Tuhan jadi kirimkan orang lain untuk gantiin aku hehehe..”
“iihh.. kok gitu?” balas maya..
“yaudah kalo gamau ya sarapan”.
“yaudahh iyaaaaaaaa”

Jangan kaget dengan gaya bicara maya, serius dia memang semanja itu.
percayalah, dunia ini memang aneh.. seorang kawan pernah berpesan kepadaku;

'kita semua memang agak aneh, dan hidup ini juga aneh. jika kita menemukan seseorang yang keanehannya cocok dengan keanehan kita, kita akan menyatu dengan dia dalam keanehan bersama yang disebut cinta.'

mari kulanjutkan,
“tadi kenapa nangis?” tanyaku.
“gak papa”
“cengeng, hahaha” balasku..
“iihhhhhh”
“aku sedih kalo kamu nangis gitu.. aku berasa gak bisa jaga kamu..”
“heeh, bukan gitu maksudnya.. aku, cuma takut kalo nanti aku gabisa sama kamu lagi.”
“aku cuma takut kalo ayah masih gak setuju sama kita” ucap maya.
Jujur, pada titik ini aku nggak ngerti harus menanggapinya seperti apa, aku hanya mencoba menenangkannya saja..
“aku gak takut kalo ayahmu gak suka sama aku, yang aku takutkan.. Tuhan tak menjodohkan kita,”  balasku.
“jadi pulang kan?” tanyaku.
“iyaaa”
“yaudah, naik gih..“ balasku.
“iyaa” maya berbisik lirih.

saat diperjalanan kami hanya diam satu sama lain, canggung, bingung..

Sesampainya dirumah, kulihat ibunya maya ada dihalaman sedang menjemur pakaian,
“assalamualaikum, buk” salamku..
“eh nak, kok tumben pulang pagi?” balas ibu maya.
“iya bu, maya pengen tidur siang katanya hehe”
“eehhhh.. enggaaa ihhh.. “ sahut maya.
“yaudah masuk dulu nak”
“iyaa bu” balasku.

“Buk, bapak dirumah?” tanyaku.
“wah, lagi dikebun. Tapi sebentar lagi pulang kayanya nak.. tunggu aja kalau mau nunggu.”
“iyaa bu” balasku..

30 menit setalah kami berbincang ringan terdengar dengungan mesin sepeda motor memasuki halaman rumah maya, dan ternyata benar itu pak manan, ayah maya.

"assalamualaikum" seru ayah maya.
"waalaikum salah" kami bertiga kompak menjawab,

"siang pak." tambahku.
"eh ada kamu, udah lama nak?" - tanya ayah maya.
"baru sebentar kok pak, bapak dari mana?"
"oh ini habis dari kebun, mau panen jagung nak, gimana kuliahnya? lancar?" - tanya ayah maya.
"alhamdulillah lancar pak" - balasku.
"yaudah lanjutin ngorbolnya"
"iya pak" balasku..

ayah maya masuk kedalam juga ibu yang mengikuti jejak langkah ayah maya meninggalkan kami berdua diruang tamu.

-MAYA-
kenapa gak ngomong sama ayah?

-AKU-
ngomong apa?

-MAYA-
buktiin kalo kamu serius.

-AKU-
gimana caranya?

-MAYA-
buktikan ke ayah kalo kamu memang serius sama aku.

-AKU-
aku takut..

-MAYA-
takut? sama ayah?

-AKU-
bukan, aku takut.. kalo ternyata nanti aku gagal ngebahagiain kamu..
aku takut, kalo ternyata diluar sana ada yang lebih mampu jaga kamu dibanding aku dan aku teralu naif untuk memaksamu tetap tinggal..
aku takut, kalo ternyata yang jadi pilihan ayahmu memang pilihan yang terbaik.
aku takut, 

-MAYA-

"KAMU PENGECUT!!!"

maya bergegas beranjak dari tempat duduknya dengan tatapan kesal meninggalkan aku yang masih belum sadar betul dengan apa yang aku ucapkan tadi.

"kenapa? berantem?" tanya ibu maya.
"enggak kok buk".
"yaudah nak, biarin dulu.. mungkin maya lagi capek makanya gitu sikapnya"
"iyaa buk.. maaf ya buk sudah buat anak ibu nangis hari ini."
ini pertama kaliya aku merasa berani berbicara seperti ini didepan ibunya maya.
"iya nak gapapa, ibuk juga pernah muda.. sama kaya kalian ini dulu hehehe" timpalnya.
"ibuk tau kalo kamu sayang banget sama maya, 5 tahun kamu nemenin dia dan itu bukan waktu yang sebentar nak. kesetiaan adalah bukti cinta terbesar."
"itu salah satu tolak ukur besarnya cinta." tambah ibu.
"iyaa bu"

entah kenapa kepalaku berdialog hebat dengan diriku sendiri, seolah2 menolak pernyataan dari ibu maya..

"tidak bu.. tidak.. bagaimana aku bisa membuktikan, bagaimana aku bisa mengukur cintaku sendiri.. tidak... tidak.. cinta itu bukan untuk dibuktikan juga tak bisa diukur.

bagiku, cinta itu sesederhana maya. aku mengetahui bahwa dia masih ada dibumi saja itu sudah cukup. fakta bahwa kau tidak bisa memahami atau menjelaskan sesuatu tidak akan membuat sesuatu itu hilang. aku tidak tau apa-apa mengenai bintang, tapi aku melihat mereka dilangit; ketidaktahuanku sama sekali tidak mempenaruhi keberadaan maupun keindahan mereka."

'aku mencintai maya' tanpa tetapi tanpa karena tanpa titik tanpa koma.
bahkan jika boleh ku analogikan, andaikan maya-ku itu  adalah seorang 'pelacur' sekalipun.. aku tetap mencintainya.. titik !!

hari sudah mulai hangat bergandeng suara toak masjid yang mengumandangkan azdan sebagai tanda bahwa sudah waktunya untuk aku pulang.

"saya pamit pulang dulu bu, sudah siang."
"iya nak, hati-hati dijalan.. gausah teralu dipikirin yaa sikap maya tadi.." balas ibu maya.
"iya buk, assamualaikum." balasku.
"waalaikum salam".

Komentar